PENGOLAHAN MAKANAN INDONESIA

 

PENGOLAHAN MAKANAN INDONESIA - Setelah sekian lamanya saya tidak menengok situs kesayanganku ini, akhirnya saya kembali lagi untuk memberikan informasi terhangat kepada kalian semua mengenai pengolahan makanan indonesia yang mana kita tahu bahwasannya makanan indonesia itu sangat beraneka ragam. 

Mulai dari sabang sampe merauke pasti mempunyai makanan-makanan khas daerah tersendiri. untuk itu kita semua wajib mengetahui kalau makanan tanah air tercinta itu memiliki kekayaan yang tak terhitung adanya. Berikut adalah beberapa tips dari saya mengenai pengolahan makanan Indonesia :

1. Pengertian Makanan Indonesia
Makanan Indonesia adalah susunan makanan yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran, sambal, sedap-sedapan, dan minuman. Berdasarkan waktu penyajiannya, makanan Indonesia dibagi menjadi 3, yaitu makan pagi, makan siang dan makan malam. Ciri khas makanan Indonesia adalah menggunakan aneka jenis bumbu dan rempah serta disajikan bersama dengan sambal dan kerupuk sebagai pelengkap.

2. Klasifikasi makanan Indonesia
Makanan Indonesia memiliki susunan menu yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur, sambal, sedap sedapan, dan minuman. Pada prinsipnya makanan Indonesia dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a. Hidangan pokok (nasi dan penggantinya)
Makanan pokok adalah jenis yang merupakan makanan utama yang biasa dihidangkan dalam jumlah banyak. Makanan pokok pada masakan Indonesia adalah nasi. Disamping itu dikenal pula bahan makanan pokok yang lain, yaitu diantaranya singkong, ubi, jagung, pisang, dan sagu. Bahan-bahan tersebut dapat digunakan tersendiri atau dicampur dengan bahan lain.

b. Hidangan lauk pauk
Lauk-pauk adalah suatu hidangan yang merupakan pelengkap nasi yang dapat berasal dari bahan hewani dan produknya, tumbuh-tumbuhan, atau kombinasi bahan hewan dan tumbuhan yang biasanya dimasak dengan bumbu tertentu. Teknik pengolahan lauk pauk diantaranya dengan cara digoreng, dikukus, dibakar, kombinasi dari beberapa teknik dan dengan teknik ganda. Teknik penyajian lauk pauk dapat dengan per porsi atau secara prasmanan. Bahan makanan sumber protein hewani yang banyak digunakan dalam masakan Indonesia adalah telur, daging, unggas, ikan, hasil laut dan lain- lain. Sedangkan bahan makanan nabati yang banyak digunakan dalam lauk pauk Indonesia yaitu tempe, tahu, oncom dan kacang-kacangan.

c. Hidangan sayur
Sayur adalah suatu hidangan berkuah yang merupakan kelengkapan nasi yang dapat dimakan dengan atau tanpa nasi. Sayur biasanya berisi kuah dan bahan pokok sayuran atau dapat pula ditambahkan dengan bahan lain seperti  bahan  hewani  atau  tumbuh-tumbuhan  seperti  produknya (makaroni, soun). Bahan yang digunakkan dalam masakan sayur dapat berupa air, kaldu, atau santan. Bumbu yang digunakan bisa bervariasi tergantung rasa yang diinginkan, karena bumbu yang digunakan tiap daerah berbeda-beda. Hidangan sayur dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1) Sayur berkuah banyak
Sayur ini merupakan golongan sayur yag menggunakan kuah atau bahan cair yang banyak. Bahan cair yang digunakan berupa air, kaldu, santan atau perpaduan dari ketiganya. Sayur yang berkuah banyak contohnya sayur asem, sayur lodeh, sayur bening, sayur sop, soto dan lain-lain.

2) Sayur berkuah sedikit (tumis)
Sayur yang ditumis adalah sayur yang bumbunya ditumis dahulu dengan minyak dan menggunakan sedikit kuah. Contoh masakan sayur yang ditumis antara lain oseng-oseng, tumis kangkung, orak-arik, cap-cay dan lain-lain.

3) Sayur tanpa kuah
Sayur tanpa kuah adalah jenis sayur yang dihidangkan tanpa atau dengan melalui proses pengolahan. Sayuran ini bisa disajikan dalam keadaan mentah bersama sambal atau bumbu sehingga manambah rasa dari sayuran tersebut. Sambal yang digunakan dapat berupa bumbu kelapa, bumbu kacang atau bumbu cabe. Contoh sayur mentah anatara lain terancam, urapan, gado-gado dan lain-lain.

d. Sambal
Sambal adalah hidangan yang tidak berdiri sendiri, tetapi harus dimakan dengan bahan lain, terutama lalap. Sambal juga dapat digunakan sebagai penambah rasa dan melengkapi hidangan lain. Sambal dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu sambal mentah dan matang. Sambal mentah contohnya sambal bawang, terasi, dan colo-colo, sedangkan sambal matang contohnya sambal tomat, sambal teri dan sambal kacang. Ada beberapa variasi sambal contohnya, antara lain : 

1) Sambal Asam, sambal ini mirip sambal terasi dan mengandung asam, biasanya asam jawa.
2) Sambal Bajak, cabai untuk sambal ini digoreng dengan minyak, ditambak dengan bawang putih, terasi dan bumbu-bumbu lainnya.
3) Sambal Balado, berasal dari Minangkabau. Cabai untuk sambal ini digoreng dengan minyak, bawang putih, bawang merah atau bawang  bombay, tomat, garam dan jeruk nipis.
4) Sambal Balacan, sambal ini mengandung balacan atau udang yang dilumatkan. Sambal ini juga dapat digabung dengan bahan lain seperti kangkung untuk menghasilkan sambal kangkung, cumi-cumi untuk menghasilkan sambal sotong, dan dengan telur untuk menghasilkan sambal telur.
5) Sambal Kemiri, sambal ini mengandung kemiri.
6) Sambal Pencit, sambal ini dicampur dengan irisan buah mangga muda (bahasa jawa : Pencit)
7) Sambal Tomat, sambal ini dicampur dengan tomat, baik yang diiris kecil-kecil atau dilumatkan.
8) Sambal Trassi atau sambal terasi, sambal yang mengandung terasi, yang adalah udang yang dilumatkan. Juga mengandung cabai merah dan hijau, tersasi, gula, garam dan jeruk nipis.
9) Sambal udang, cabai digoreng dengan minyak, bawang putih dan udang.

e. Sedap-sedapan
Sedap-sedapan atau kudapan adalah makanan kecil yang biasa dihidangkan bersama minuman, baik untuk keperluan sehari-hari maupun untuk  kesempatan  khusus.  Sedap-sedapan  Indonesia  dapat diklasifikasikan menurut bentuk, rasa, bahan, dan teknik olah.

1) Klasifikasi Kudapan menurut Bentuk
Klasifikasi kudapan menurut bentuk dapat dibedakan menjadi kue kecil (kue mangkuk, coro bikang, klepon, lumpia dan lain-lain), kue besar (kue lapis, kue zebra) dan kue yang disertai kuah (bubur, kolak, serabi kocor).
2) Klasifikasi Kudapan Menurut Rasa
Klasifikasi kudapan menurut rasa dapat dibedakan menjadi kue manis (yangko, geplak, klepon) dan kue asin atau gurih (lemper, lumpia, semar mendem)
3) Klasifikasi Kudapan Menurut Bahan
Klasifikasi kudapat menurut bahan dapat dibedakan menjadi beras (arem- arem), tepung beras (nagasari, bubur sumsum), beras ketan (lemper, wajik), tepung ketan (klepon) dan lain-lain.
4) Klasifikasi Kudapan Menurut Teknik Olah
Klasifikasi kudapan menurut teknik olah dapat dibedakan menjadi dikukus (lemper, arem-arem), direbus (klepon), digoreng (lumpia, martabak), dipanggang (bika ambon) dan lain-lain.

f. Minuman
Minuman adalah salah satu kebutuhan hidup yang penting dan harus dipenuhi. Kegunaan minuman adalah untuk mencegah rasa haus, menambah nilai gizi serta memenuhi kebutuhan tubuh akan air. Minuman Indonesia menurut jenisnya dibedakan menjadi dua yaitu minuman panas dan dingin. Minuman panas ada dua macam yaitu minuman panas tidak berisi (teh, kopi, coklat, jeruk) dan minuman panas berisi (bajigur, wedang ronde, sekoteng dan wedang ublek). Sedangkan minuman dingin juga ada dua macam yaitu minuman dingin tidak berisi (es sirup, es limun, es beras kencur) dan minuman dingin berisi (dawet, es campur, es buah).

3. Sosial Budaya

Arti pangan tidak terbentuk dengan sendirinya. Proses ini diperoleh melalui pembelajaran secara turun temurun dari orang dewasa keanaknya ataupun dari generasi tua kegenerasi muda dan berlangsung terus sepanjang hayat. Proses sosialisasi ini terus berlangsung selama anggota keluarga tersebut tinggal bersama dengan kelompoknya. Apa yang diterima, ataupun apa yang dianut oleh kelompok tersebut akan tetap mewarnai perilaku makannya. 

Proses pembelajaran ini menjadikan terbentuknya pola hidangan yang menetap, dan dijadikannya pedoman dalam penyusunan hidangan. Konsep pangan antar berbagai kelompok masyarakat kadang berbeda. Tidak selamanya satu jenis makanan dimaknai dengan makna yang sama. Alasan tabu untuk mengkonsumsi satu jenis hidangan, atapun pemberian nilai terhadap satu jenis hidangan antara kelompok masyarakat, suku berbeda. Sehingga akan ditemukan ikan menjadi tabut untuk ibu menyusui diberbagia kota di Jawa sementar ditempat lain tidak menjadi masalah. Demikian juga akan ditemukan jenis untuk kelompok kaya dan miskin. Juga peristiwa tertentu yang dikatikan dengan jenis makanan yang kadang mengikat dan mengatur anggota kelompok. 

Dengan demikian arti pangan tidak terbatas memenuhi rasa lapar, tetapi juga untuk memenuhi rasa senang, ataupun memberikan adanya ikatan tertentu yang berlaku dalam suatu kelompok. Keterbatasan informasi yang diterima selama proses pembelajaran dan pengaruh dari berbagai faktor-faktor tersebut akan menyebabkan penyediaan hidangan seperti yang diperoleh dari generasi terdahulu. Apa yang disajikan kadang bersifat tradisi, kurang diikuti oleh rasionalisasi mengapa hidangan tersebut diberikan, ataupun disajikan. 

Misalnya penyediaan hidangan didasarkan pada aspek kebutuhan ataupun aspek kesehatan. Kebiasaan makan keluarga dengan susunan hidangannya merupakan manifestasi dari kebudayaan keluarga yang disebut life style atau gaya hidup. Hidup merupakan hasil kondensasi dari interaksi antara faktor sosial,buaya dan lingkungan hidup. Dengan demikian terdapat hubungan yang kuat antara susunan hidangan seseorang, keluarga, masyarakat, dan ketiganya saling mempengaruhi. 

Seberapa besar kekuatan pengaruh faktor sosial, budaya, lingkungan hidup tersebut mewarnai perilaku seseorang didalam mengkonsumsi pangan akan mempengaruhi upaya perubahan pola pangan kearah pola lain. Tentu saja semakin kuat pengaruh budaya tersebut akan semakin sulit untuk diubah, apalagi perubahan pola hidangan tersebut sama sekali berbeda. Untuk itu diperlukan kesadaran yang tinggi dari yang bersangkutan. 

Secara lebih rinci dapat disebutkan disini berbagai faktor yang mempengaruhi life style antara lain : penghasilan (besarnya, jenisnya, sumbernya); pendidikan (ibu, ayah, ataupun anggota keluarga yang lain); lingkungan hidup (kota, desa, pinggiran); kepercayaan/agama; pengetahuan tentang kesehatan (konsep sehat, sakit, konsep tentang hubungan antara makanan dan kesehatan); pengetahuan gizi (kedalaman, keluasaan); faktor fisiologis (masa tumbuh, remaja, dewasa, tua); suku bangsa dan distribusi pangan (jenis, ragam pangan yang mampu diproduksi dan didistribusikan baik dalam skala keluarga, masyarakat, ataupun antar daerah) dan masih banyak lagi. 

Faktor tersebut merupakan faktor penentu dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kualitas dan kuantitas makanan keluarga. Dikarenakan adanya variasi sumbangan masing-masing faktor tersebut yang berbeda untuk setiap keluarga maka akan ditemukan ragam life-style yang khas pada setiap keluarga, masyarakat, bangsa.

4. Bahan Pangan Lokal

Era globalisasi mensyaratkan terbukanya kesempatan tiap negara untuk memasarkan produk maupun jasa masing-masing. Makanan berpotensi untuk berperan dalam pasar global, seperti telah kita rasakan saat ini makanan asing merebut pasar Indonesia dengan mempopulerkan makanan-makanan asing sebagai makanan yang bergengsi. 

Apabila hal ini berlangsung secara terus menerus maka akan sangat mengkhawatirkan bangsa kita, jati diri kita sebagai bangsa dengan budaya yang luhur sedikut demi sedikit akan terkikis, dimana kita tidak mengenal makanan kita sendiri, tetapi lebih bangga apabila menyantap makanan-makanan asing. Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi lunturnya kegemaran sebagian masyarakat terhadap makanan tradisional Indonesia antara lain disebabkan karena adanya perubahan gaya hidup, perubahan sosial budaya, perkembangan ekonomi dalam kehidupan masyarakat, 

di samping itu kebiasaan masyarakat terhadap makan di luar, gencarnya promosi dan tersedianya makanan asing di berbagai kota besar juga sebagai salah satu faktor mengapa masyarakat lebih menyukai makanan asing dari pada makanan kita sendiri. Kita juga harus introspeksi apakah kondisi makanan tradisional kita dapat tampil menarik, mampu bersaing terutama dalam aspek kepraktisan, kebersihan, pengolahan, penampilan dan penyajian dengan makanan asing? 

Saat ini Indonesia tidak sepenuhnya swasembada pangan, dalam arti tidak seluruh wilayah dapat memenuhi sendiri kebutuhan pangannya yang beraneka ragam, sehingga pada saat tertentu memerlukan impor. Dengan jumlah penduduk pada tahun 2010 sekitar 234,5 juta jiwa dan bertambahnya tahun penduduk akan bertambah terus. Permasalahan lain seperti kapasitas produksi pangan Nasional yang semakin terbatas, karena aktivitas ekonomi dan penciutan lahan karena alih fungsi. 

Selain hal tersebut juga data statistik tahun 2008 di Indonesia terdapat 34.96 juta penduduk miskin yang memerlukan perhatian agar kebutuhan pangan dapat terpenuhi. Jika kemampuan produksi bahan pangan domistik tidak dapat mengikuti peningkatan kebutuhan, maka pada waktu yang akan datang Indonesia akan tergantung impor, yang berarti ketahanan pangan nasional akan semakin rentan karena akan semakin tergantung pada kebijakan ekonomi negara lain. 

Berdasarkan perkiraan tersebut tantangan utama dalam pemantapan ketahanan pangan adalah optimalisasi pemanfaatan sumberdaya pangan domistik dan peningkatan kapasitas produksi pangan dalam jumlah, kualitas dan keragamannya. Konsumsi pangan hendaknya memperhatikan ketentuan zat gizi yang cukup berimbang, sesuai dengan kebutuhan bagi pembentukan manusia yang sehat, kuat, cerdas dan produktif. 

Dalam system konsumsi terdapat aspek penting yaitu diversifikasi. Diversifikasi pangan dimaksudkan untuk memperoleh keragaman zat gizi sekaligus melepas ketergantungan masyarakat atas satu jenis pangan pokok tertentu yaitu beras. Ketergantungan yang tinggi dapat memicu ketidakstabilan jika pasokan terganggu dan sebaliknya jika masyarakat menyukai pangan alternatif maka ketidakstabilan akan dapat dijaga.

Hasil pertanian dan budidaya pangan suatu daerah merupakan suatu aset ekonomi, budaya dan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu sangat tepat apabila sasaran pembangunan bidang pangan di Indonesia diantaranya adalah  terwujudnya  ketahanan  pangan  rumah  tangga,  terwujudnya diversifikasi pangan serta terjamin keamanan pangan. Keberadaan industri pengolahan makanan hasil pertanian di Indonesia yang paling besar adalah industri rumah tangga, kemudian industri kecil dan industri menengah dan besar. Teknologi yang dikembangkan melibatkan penggunaan perlakuan fisik (pemanasan, pengeringan, pendinginan dan pembekuan), penambahan bahan kimia (pengawet, pewarna, pengental, peningkat cita rasa) atau kombinasi keduanya.
PENGOLAHAN MAKANAN INDONESIA Sumarna Almarogi PENGOLAHAN MAKANAN INDONESIA - Setelah sekian lamanya saya tidak menengok situs kesayanganku ini,...